Satuan Bahasan ke-5
12. Jam` mu’annats sâlim dan dua penanda/akhiran jam` mu’annats sâlim
13. Lembar Tadribat 7-8
12. Jam` mu’annats sâlim dan dua penanda/akhiran jam` mu’annats sâlim
13. Lembar Tadribat 7-8
10. Jam` mudzakkar sâlim dan dua penanda/akhiran jam` mudzakkar sâlim
11. Lembar Tadribat 5-6
Satuan Bahasan ke-2
4. Kategori jins (jenis) ism
5. Penanda mu’annats.
6. Lembar Tadribat 2
72. Penentuan ‘i`rab ism berdasarkan Kelompok 2
73. Penentuan ‘i`rab ism berdasarkan Kelompok 3
karena [ الشديد ] termasuk ism 4 (shifat musyabbahah wazn فعيل) dan terletak setelah ism yang pertama [ القتال ] yang diawali AL (‘alif lam) atau [ma`rifat]
Teks no. 2 (2)
وعن العاجز عنه كالمريض، أو من كان في السفينة أو السيارة، أو الطيارة، إذا خشي خروج الوقت
Mengapa fi`l
خشي
digunakan bentuk bina’ fi`l lilmajhul?
karena tidak terdapat fa`ilnya.
Fi`l
خشي
lebih mungkin berbentuk bina’ fi`l lil-ma`lum (kata kerja aktif).
Ism العاجز sebagai fa`il (yang lebih tepat fa`il adalah dhamir mustatir yg terletak pada fi`l
خشي .
والله أعلم
Syaikh Musthafa al-Ghalayini (hal. 364) memaparkan alasan fi`l berbentuk bina’ fi`l lil-majhul:
1. Fa`il (pelaku) telah diketahui, tidak perlu disebutkan.
2. Fa`il tidak diketahui
3. Fa`il diketahui, tetapi sengaja dikaburkan.
4. Kekhawatiran akan hal buruk menimpa fa`il jika disebutkan.
5. Takut terhadap fa`il jika disebutkan.
6. Penyebutan fa`il kurang bermanfaat.
7. Menjaga kehormatan fa`il (pelaku).
Satuan Bahasan ke-17:
33. Mengenali batas awal dan batas akhir suatu kata
34. Contoh praktik pemisahan kata
Satuan Bahasan 1:
1. Ism, kata benda
2. Dua Penanda Ism
3. Lembar Tadribat, hal. 1
Para pengguna BABA Lughatuna dipersilahkan mengajukan pertanyaan dan jawaban seputar Satuan Bahasan 1
Teks no. 2:
ويسقط الاستقبال عن المحارب في صلاة الخوف والقتال الشديد
Bagaimana cara menentukan ‘i`rab kata
الشديد
sebagai shifat?